Kaspersky melaporkan peningkatan ancaman siber di Indonesia pada 2025, dengan 14.909.665 serangan berbasis web dan 39.718.903 ancaman perangkat yang terdeteksi dan diblokir. Perusahaan juga mencatat bahwa 20% perusahaan di Indonesia mengalami serangan rantai pasokan tahun lalu.
Secara bisnis, Kaspersky mencatat pertumbuhan penjualan 4% YoY secara global mendekati USD 836 juta, didorong oleh kenaikan penjualan produk B2B sebesar 16% YoY. Di kawasan Asia Pasifik, segmen B2B dan enterprise tumbuh signifikan, sementara di Indonesia penjualan tumbuh 3% YoY dengan lonjakan 48% YoY pada segmen B2C.

Adopsi Security Operations Center (SOC) menjadi fokus utama karena ancaman yang semakin canggih seperti APT, serangan berbasis AI, dan eksploitasi seluler. Menurut riset Kaspersky, 58% pemimpin TI di Indonesia percaya SOC meningkatkan keamanan, dan 65% perusahaan berencana meningkatkan SOC dengan AI untuk memperbaiki efektivitas deteksi ancaman.
“SOC terintegrasi, yang didukung oleh SIEM dan intelijen ancaman real-time, sangat penting untuk memungkinkan deteksi ancaman dini, respons insiden yang cepat, dan menjaga pertahanan bisnis yang berkelanjutan,” ujar Defi Nofitra, Country Manager untuk Indonesia di Kaspersky.

Tantangan implementasi SOC di Indonesia meliputi kekurangan data pelatihan berkualitas (47%), minimnya spesialis AI (37%), dan keterbatasan solusi di pasar (29%). Untuk mengatasi hal ini, Kaspersky mendorong pelatihan teknis rutin (ICS/SCADA/OT), penilaian keamanan OT berkala, serta pemanfaatan layanan konsultasi SOC, SIEM berbasis AI, dan solusi EDR/XDR dari lini Kaspersky Next.

Kaspersky menegaskan komitmen memperkuat ketahanan siber Indonesia melalui SOC generasi berikutnya yang terintegrasi dengan AI, SIEM, dan intelijen ancaman real-time, sehingga meningkatkan visibilitas, menurunkan MTTD dan MTTR, serta mendukung kepatuhan regulasi.










