//Krisis Chip Global: Baterai dan Durabilitas Jadi Tolok Ukur Baru Smartphone

Krisis Chip Global: Baterai dan Durabilitas Jadi Tolok Ukur Baru Smartphone

Harga smartphone sepanjang tahun ini melonjak tajam akibat kelangkaan chip memori global. Produsen memori lebih memilih mengalihkan lini produksi DRAM dan NAND ke chip berdaya tinggi untuk pusat data kecerdasan buatan (AI), yang menawarkan margin jauh lebih besar. Dampaknya, pasokan untuk perangkat konsumen menyusut drastis dan harga ponsel pun ikut terkerek.

Kondisi ini memaksa produsen smartphone menyesuaikan strategi. Jika sebelumnya konsumen menilai ponsel dari besaran RAM atau chipset terbaru, kini standar utama bergeser ke daya tahan baterai, konsistensi performa, dan umur pakai perangkat. IDC bahkan menegaskan, harga memori tidak akan kembali ke level 2025, dengan proyeksi tekanan berlanjut hingga 2028, bahkan bisa melewati 2030.

Harga Naik, Spesifikasi Disesuaikan

Riset IDC mencatat, harga jual rata-rata smartphone global naik 27,6% pada 2026 menjadi rekor USD581 (sekitar Rp10,3 juta). Sejumlah flagship tetap bertahan di RAM 12GB, sementara kelas menengah menyesuaikan konfigurasi agar harga tidak terlalu tinggi. Counterpoint Research menambahkan, beberapa model bahkan menurunkan kapasitas memori hingga 4GB DRAM untuk menjaga keterjangkauan.

Penyesuaian tak hanya terjadi pada memori. Komponen kamera, layar, hingga audio ikut dipangkas. “Cara lama menjual produk lewat perbandingan spesifikasi sudah kehilangan daya tarik,” ujar Shenghao Bai, Senior Analyst Counterpoint Research. Kini, optimisasi perangkat lunak menjadi kunci menjaga pengalaman pengguna.

Dampak Terbesar di Segmen Entry-Level

Segmen ponsel murah paling terpukul. Biaya komponen ponsel di bawah USD200 (sekitar Rp3,5 juta) naik 20%-30% sejak awal 2026. Bahkan, memori menyumbang lebih dari 65% biaya produksi di kelas entry-level. IDC mencatat, pengiriman ponsel di bawah USD100 (sekitar Rp1,8 juta) anjlok hampir 60% pada kuartal kedua 2026.

Di Indonesia, pasar entry-level dan menengah yang mendominasi penjualan ikut merasakan dampak. Counterpoint melaporkan, pengiriman smartphone turun 9% pada Q1 2026, sementara harga naik 7%-45%. Sebagian konsumen beralih ke ponsel bekas atau refurbished. Sebaliknya, segmen premium justru tumbuh 30% dan mencetak rekor kontribusi tertinggi 8,3% dari total pengiriman.

  realme 16 Pro Series 5G: Urban Wild Design Karya Naoto Fukasawa Hadir di Indonesia

Tiga Standar Baru Memilih Smartphone

Dengan berakhirnya era smartphone ultramurah, konsumen disarankan mengubah cara menilai perangkat. Ada tiga ukuran utama yang kini lebih relevan:

Daya tahan baterai: mampu bertahan seharian penuh dan tetap layak dipakai setelah 2–3 tahun.
Konsistensi performa: tetap responsif dan stabil meski sudah digunakan lebih dari setahun.
Umur pakai: ketahanan fisik, ketersediaan suku cadang, serta lamanya dukungan pembaruan sistem dan keamanan.

Seperti ditegaskan Nabila Popal, Senior Research Director IDC, “Era smartphone ultramurah telah berakhir.” Vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru dan tetap menjaga kualitas pengalaman pengguna akan menjadi pemenang di pasar yang semakin menantang.